Kalkulator Redaman
Jaringan Serat Optik

Perencanaan jaringan FTTH yang presisi untuk penyelenggara jaringan telekomunikasi. Perhitungan redaman end-to-end mengikuti standar ITU-T G.984, ITU-T G.671, dan SNI IEC 61300-3-4.

ITU-T G.984 GPON ITU-T G.671 ITU-T G.652 SMF SNI IEC 61300-3-4 Permenkominfo No.5/2021

Perhitungan menggunakan Rumus Redaman Total (ITU-T G.984.2):

α_total = (α_serat × L) + Σ(α_splitter) + (N_konektor × α_konektor) + (N_splice × α_splice)

Margin link: P_budget = P_TX(OLT) − P_RX_min(ONT) − α_total − Safety_Margin ≥ 0 dB

Parameter Kabel Serat Optik

Sesuai ITU-T G.652 untuk kabel serat monomode standar

GPON (ITU-T G.984) beroperasi pada 1310/1490 nm

meter

Kabel feeder / backbone

meter

Kabel distribusi

meter

Kabel drop (ADSS/FTTH)

Konfigurasi Splitter (Sesuai ITU-T G.671)

Loss insertion splitter sesuai ITU-T G.671 Tabel 4

buah

Splitter tahap kedua (2-stage splitting)

buah
Parameter Konektor, Splice, dan Daya

Sesuai IEC 61300-3-34 dan SNI IEC 61300-3-4

dB

Sesuai ITU-T G.984.2 batas maks 0,1 dB/splice

dB
titik
dB

Rekomendasi minimum 3 dB (Telkom Indonesia)

dBm

GPON Class B+: +1,5 s.d. +5 dBm (ITU-T G.984.2)

dBm

GPON Class B+: min −28 dBm | Class C+: min −32 dBm

Insertion Loss Splitter (ITU-T G.671 Tabel 4)
Rasio SplitLoss Ideal (dB)Loss Tipikal (dB)Loss Maks (dB)KapasitasStandar
1:23,013,54,02 pelangganITU-T G.671
1:46,027,07,54 pelangganITU-T G.671
1:89,0311,011,58 pelangganITU-T G.671
1:1612,0414,515,016 pelangganITU-T G.671
1:3215,0517,518,532 pelangganITU-T G.671
1:6418,0621,022,064 pelangganITU-T G.671
1:12821,0724,525,5128 pelangganITU-T G.671

Rumus ideal: IL = 10 × log₁₀(N) dB, di mana N = rasio split. Nilai tipikal mencakup excess loss perangkat.

Redaman Kabel Serat Optik (ITU-T G.652)
Tipe KabelPanjang GelombangRedaman maks (dB/km)Standar
OS1 / G.652.B1310 nm0,40ITU-T G.652.B
OS1 / G.652.B1550 nm0,25ITU-T G.652.B
OS2 / G.652.D1310 nm0,35ITU-T G.652.D
OS2 / G.652.D1550 nm0,20ITU-T G.652.D
OS2 / G.654.E (cut-off)1550 nm0,16ITU-T G.654.E
Loss Konektor dan Splice
KomponenLoss (dB)KeteranganStandar
Konektor SC/APC0,3 — 0,5Per buah, APC dianjurkan untuk FTTHIEC 61300-3-34
Konektor SC/UPC0,2 — 0,4Return loss lebih rendah dari APCIEC 61300-3-34
Konektor LC/APC0,5 — 0,75Digunakan pada OLT dan transponderIEC 61300-3-34
Fusion splice0,02 — 0,10Per titik sambung, maks 0,10 dBITU-T G.984.2
Mechanical splice0,15 — 0,30Tidak dianjurkan untuk FTTH permanenITU-T L.12
Power Budget GPON dan XGS-PON (ITU-T G.984.2 / G.9807.1)
Kelas OLTP_TX min (dBm)P_TX maks (dBm)P_RX min ONT (dBm)Budget maksStandar
GPON Class B+0,0+4,0−25,0~25 dBG.984.2
GPON Class B++1,5+5,0−28,0~28 dBG.984.2 (umum)
GPON Class C++3,0+7,0−32,0~32 dBG.984.2
XGS-PON (10G)+2,0+6,0−29,0~29 dBG.9807.1
NG-PON2 (TWDM)+3,0+8,0−34,0~34 dBG.989.2
ISP di Indonesia umumnya menggunakan OLT GPON Class B+ dengan budget 28 dB. Untuk arsitektur 2-stage splitter (1:8 ODC × 1:8 ODP = 1:64), total loss splitter mencapai 22 dB, menyisakan sekitar 6 dB untuk kabel dan konektor — cocok untuk jangkauan hingga 10 km.

Rekomendasi Arsitektur Jaringan FTTH

Berdasarkan pengalaman ISP Indonesia dan standar ITU-T G.984 untuk jaringan GPON Class B+.

CBN · ISP Kota
Model B — 1:16 ODC × 1:8 ODP
Splitter ODC1:16 (14,5 dB)
Splitter ODP1:8 (11,0 dB)
Total split1:128
Loss splitter25,5 dB
Budget tersisa (5 km kabel)~0,5 dB ⚠
Kelas OLTC+ dianjurkan
Kapasitas besar (128 subscriber per port OLT). Membutuhkan OLT Class C+ atau kabel OS2 untuk margin aman.
First Media · ISP Besar
Model C — 1:32 ODC × 1:4 ODP
Splitter ODC1:32 (17,5 dB)
Splitter ODP1:4 (7,0 dB)
Total split1:128
Loss splitter24,5 dB
Budget tersisa (5 km kabel)~1,5 dB ⚠
Kelas OLTC+ dianjurkan
ODP memiliki port lebih sedikit, memudahkan manajemen pelanggan per zona. Populer pada area urban padat.
Single-stage — Coverage Luas
Model D — 1:32 ODC (tanpa ODP splitter)
Splitter ODC1:32 (17,5 dB)
Splitter ODPTidak ada
Total split1:32
Loss splitter17,5 dB
Budget tersisa (5 km kabel)~8,5 dB ✓✓
Kelas OLTB+ sangat baik
Margin besar, cocok untuk area rural dengan jangkauan kabel panjang. Kapasitas lebih kecil per port OLT.
Perbandingan Loss Total (Estimasi 5 km kabel, 4 konektor, 4 splice)
ModelLoss Splitter (dB)Loss Kabel (dB)Loss Komponen (dB)Total (dB)Margin B+ (dB)Status
A (1:8+1:8)22,02,02,426,41,6Layak B+
B (1:16+1:8)25,52,02,429,9−1,9Perlu C+
C (1:32+1:4)24,52,02,428,9−0,9Perlu C+
D (1:32 saja)17,52,02,421,96,1Sangat baik

Asumsi: OLT P_TX = +2 dBm, ONT P_RX_min = −28 dBm, budget = 30 dB dikurangi safety margin 2 dB = 28 dB efektif.

Standar Internasional dan Nasional yang Digunakan
ITU-T G.984
Gigabit-capable Passive Optical Networks (GPON) — Mendefinisikan spesifikasi fisik dan protokol jaringan GPON termasuk budget optik, kelas OLT (B, B+, C+), batas loss splitter, dan konfigurasi jaringan PON hingga 20 km.
ITU-T G.671
Transmission characteristics of optical components and subsystems — Mendefinisikan insertion loss tipikal dan maksimum splitter/coupler serat optik untuk berbagai rasio split mulai 1:2 hingga 1:128.
ITU-T G.652
Characteristics of a single-mode optical fibre and cable — Menentukan atenuasi maksimum kabel serat monomode: G.652.B maks 0,40 dB/km pada 1310 nm, G.652.D maks 0,35 dB/km pada 1310 nm dan 0,20 dB/km pada 1550 nm.
IEC 61300-3-4
Fibre optic interconnecting devices — Insertion loss — Metode pengukuran insertion loss dan return loss konektor serat optik (SC, LC, FC, E-2000). Konektor SC/APC maksimum 0,5 dB, SC/UPC maksimum 0,4 dB.
SNI IEC 61300-3-4
Adopsi nasional IEC 61300-3-4 oleh BSN — Standar Nasional Indonesia yang mengadopsi IEC 61300-3-4 sebagai acuan kualitas konektor dan patchcord serat optik yang dipasang di jaringan telekomunikasi dalam negeri.
ITU-T G.984.2
GPON Physical Media Dependent (PMD) layer specification — Menetapkan parameter fisik GPON: batas loss konektor per titik maks 0,5 dB, loss splice maks 0,1 dB per titik, panjang maksimum ODN 20 km, dan rasio split hingga 1:128.
Permenkominfo 5/2021
Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi — Regulasi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI yang mengatur persyaratan teknis perangkat telekomunikasi termasuk OLT, ONT/ONU, dan perangkat jaringan akses serat optik yang beroperasi di Indonesia.
ITU-T L.90 / L.95
Optical fibre outside plant installation guidance — Panduan instalasi kabel serat optik di luar gedung, termasuk prosedur splicing, standar bending radius minimum, dan prosedur pengujian OTDR untuk jaringan distribusi.
Rumus-Rumus Utama yang Digunakan Kalkulator Ini

1. Redaman kabel (ITU-T G.652)

α_kabel = α_spesifik (dB/km) × L_total (km)

2. Insertion loss splitter ideal (ITU-T G.671)

IL_splitter = 10 × log₁₀(N) di mana N = rasio split

3. Redaman total end-to-end (ITU-T G.984.2)

α_total = α_kabel + Σ(IL_splitter) + (N_konektor × α_konektor) + (N_splice × α_splice)

4. Daya terima ONT (P_RX)

P_RX = P_TX (OLT) − α_total

5. Link margin atau sisa budget

Margin = (P_TX − P_RX_min) − α_total − Safety_Margin ≥ 0 dB

6. Power budget OLT (ITU-T G.984.2)

Budget = P_TX_max − P_RX_min [contoh B+: 5 − (−28) = 33 dB]

Nexviro — Penyelenggara Jasa dan Jaringan Telekomunikasi

Beroperasi berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dan regulasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

KBLI 61100
Aktivitas Telekomunikasi dengan Kabel
Mencakup operasional dan penyediaan jaringan telekomunikasi berbasis kabel atau serat optik, termasuk jaringan akses lokal berbasis serat optik (FTTH/FTTB), transmisi data, dan layanan internet kabel kepada pelanggan perseorangan maupun badan usaha.
KBLI 61200
Aktivitas Telekomunikasi Tanpa Kabel
Mencakup penyediaan akses internet nirkabel termasuk WiFi, Fixed Wireless Access (FWA), dan jaringan berbasis radio. Relevan untuk layanan last-mile wireless yang melengkapi infrastruktur serat optik.
KBLI 61900
Aktivitas Telekomunikasi Lainnya
Mencakup penyediaan akses internet (ISP/IJASP), layanan VPN, pengoperasian NOC (Network Operations Center), dan jasa pendukung infrastruktur telekomunikasi yang tidak terklasifikasi pada KBLI 61100 atau 61200.
Permenkominfo 13/2019
Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang penyelenggaraan jasa telekomunikasi yang mengatur persyaratan, perizinan, dan kewajiban teknis penyelenggara jaringan dan jasa internet di Indonesia, termasuk standar kualitas layanan (QoS).